Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan. Akhir-akhir ini begitu banyak sekali kampanye-kampanye tentang pemanasan global, di jalanan, di television, bahkan duta pemanasan global pun sudah ada. Tetapi apa yang sebenarnya terjadi terhadap bumi, para ilmuan terbelah menjadi dua kubu, dimana kubu yang pertama berpendapat setuju dengan global warming terjadi karena ulah manusia tetapi kubu yang kedua masih mempertanyakan apakah temperatur benar-benar meningkat. Mari kita bahas melalui sudut pandang kubu kedua tentang adanya konspirasi pemanasan global.
Konspirasi Global Warming
Para ilmuwan yang mempertanyakan pemanasan global cenderung menunjukkan tiga perbedaan yang masih dipertanyakan antara prediksi model pemanasan global dengan perilaku sebenarnya yang terjadi pada iklim.
Pertama, pemanasan cenderung berhenti selama tiga dekade pada pertengahan abad ke-20; bahkan ada masa pendinginan sebelum naik kembali pada tahun 1970-an. Kedua, jumlah total pemanasan selama abad ke-20 hanya separuh dari yang diprediksi oleh model. Ketiga, troposfer, lapisan atmosfer terendah, tidak memanas secepat prediksi model. Akan tetapi, pendukung adanya pemanasan global yakin dapat menjawab dua dari tiga pertanyaan tersebut. Kurangnya pemanasan pada pertengahan abad disebabkan oleh besarnya polusi udara yang menyebarkan partikulat-partikulat, terutama sulfat, ke atmosfer. Partikulat ini, juga dikenal sebagai aerosol, memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke angkasa luar. Pemanasan berkelanjutan akhirnya mengatasi efek ini, sebagian lagi karena adanya kontrol terhadap polusi yang menyebabkan udara menjadi lebih bersih.
Keadaan pemanasan global sejak 1900 yang ternyata tidak seperti yang diprediksi disebabkan penyerapan panas secara besar oleh lautan. Para ilmuan telah lama memprediksi hal ini tetapi tidak memiliki cukup data untuk membuktikannya. Pada tahun 2000, U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memberikan hasil analisa baru tentang temperatur air yang diukur oleh para pengamat di seluruh dunia selama 50 tahun terakhir. Hasil pengukuran tersebut memperlihatkan adanya kecenderungan pemanasan: temperatur laut dunia pada tahun 1998 lebih tinggi 0,2 derajat Celsius (0,3 derajat Fahrenheit) daripada temperatur rata-rata 50 tahun terakhir, ada sedikit perubahan tetapi cukup berarti.
Pertanyaan ketiga masih membingungkan. Satelit mendeteksi lebih sedikit pemanasan di troposfer dibandingkan prediksi model. Menurut beberapa kritikus, pembacaan atmosfer tersebut benar, sedangkan pengukuran atmosfer dari permukaan Bumi tidak dapat dipercaya. Pada bulan Januari 2000, sebuah panel yang ditunjuk oleh National Academy of Sciences untuk membahas masalah ini mengakui bahwa pemanasan permukaan Bumi tidak dapat diragukan lagi. Akan tetapi, pengukuran troposfer yang lebih rendah dari prediksi model tidak dapat dijelaskan secara jelas. (Wikipedia.org)
Baik disadari atau tidak, selama ini kita hanya menerima pemberitaan dari media-media mengenai pemanasan global, kita disuguhi isu-isu yang menakutkan sepeti yang terakhir terjadi adalah terbelahnya gletser petermann sepanjang 70 km dengan bongkahan yang terlepas sebesar 260 kilometer per segi. Tahukah anda sebenarnya hal ini belum tentu disebabkan karena pemanasan global, persis seperti judul novel Michael Crichton, "State of Fear", Inilah kondisi yang ingin diciptakan. Sebuah berita mengejutkan datang dari Minnesota. Pada tanggal 15 Oktober 2009, Lord Christoper Monckton, penasehat sains mantan perdana menteri Inggris, Margaret Thatcher, di Bethel University, St Paul, Minnesota, mengatakan bahwa tujuan utama Konferensi PBB mengenai perubahan iklim yang akan diselenggarakan di Kopenhagen adalah untuk menggunakan isu pemanasan global sebagai fondasi untuk membangun satu pemerintahan dunia, ini membenarkan kecurigaan para penganut teori konspirasi. Sejak Al gore mengeluarkan DVD kampanye Global Warming yang begitu bagus, manis dan easy to understand, sejak itu lah para penganut teori konspirasi semakin gencar berargumen. Contoh kebohongan dari film Gore adalah klaim bahwa Pemanasan global akan menaikkan permukaan laut setinggi 20 kaki (6,09 meter), padahal sebenarnya hanyalah 23 Inci (58,42 cm). Ia juga mengklaim bahwa beruang kutub sedang berada dalam bahaya. Padahal tidak demikian sebenarnya. Film itu juga menunjukkan foto-foto gletser yang berkurang, namun ia tidak menyebut gletser-gletser lain yang terus bertambah. Gore juga menyebut gletser Kilimanjaro yang terus berkurang akibat pemanasan global. Tapi ia tidak mengatakan bahwa gletser Kilimanjaro telah berkurang sejak 1880, jauh sebelum kadar CO2 meningkat di bumi.
"Saya sudah membaca isi perjanjian itu bahwa satu pemerintahan dunia akan dibuat. Pemerintahan dunia ini adalah satu dari tiga tujuan entitas yang baru ini. Tujuan keduanya adalah untuk mentransfer kekayaan negara barat ke negara-negara dunia ketiga untuk memenuhi apa yang disebut "Hutang iklim" - karena dunia barat telah membakar CO2 dan mereka tidak. Karena dunia barat telah mengacaukan iklim dan mereka tidak. Dan tujuan ketiga dari entitas baru ini adalah pemaksaan penyelenggaraan negara olehnya. Walaupun "transfer kekayaan dari negara barat ke negara-negara ketiga" kedengarannya menyenangkan bagi kita, penduduk Indonesia, tapi sesungguhnya metode ini lebih mirip dengan Marxisme dibanding keadilan." Lord Monckton.(Beritanusantara.com)
Sementara Al Gore pergi berkeliling dunia untuk menyebarkan paham pemanasan globalnya, sekelompok ilmuwan, yang semakin hari bertambah banyak jumlahnya masih bertanya : Dimanakah bukti adanya pemanasan global ?, di bawah ini adalah pendapat dan fakta para ilmuan kubu kedua,
Steven Milloy yang memiliki gelar dalam bidang Natural Science dan gelar master dalam Biostatistik dari Universitas John Hopkins menyatakan, Pemanasan global adalah sebuah hoax, suhu bumi sesungguhnya hanya berubah sekitar 1 derajat Fahrenheit dalam tempo satu abad. Plus, planet tercinta ini telah mengalami periode zaman es dan periode hangat tanpa ada campur tangan anda dan saya. Ia juga merujuk kepada protokol Kyoto yang dianggapnya sebagai suatu lelucon. Protokol ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas karbon dunia menjadi 8% pada tahun 2012. 8% adalah level emisi pada tahun 1990. Sebuah studi dari Rusia (bukan Amerika) menunjukkan bahwa konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer berada pada level sekitar 370 PPM (Parts per Million) dan bila protokol Kyoto diikuti, maka hal itu hanya akan merubah 1 atau 2 PPM saja pada tahun 2012. protokol yang sia-sia.
Bulan Agustus 2009, pemimpin organisasi Greenpeace, Gerd Leipold, mengakui di depan wartawan BBC bahwa klaim yang mereka sebarkan lewat press release di bulan Juli 2009 bahwa es Arktik akan mencair total pada tahun 2030 adalah klaim yang salah. Ia mengakui bahwa Greenpeace telah berbohong dengan tujuan untuk lebih menggugah para pemimpin dunia. (breitbart.com)
Pukulan paling berat bagi ilmuwan pemanasan global pro Al Gore datang pada awal September 2009. Prof Mojib Latif, salah seorang peneliti utama di IPCC (lembaga iklim PBB) mengakui bahwa suhu global memasuki fase mendingin dan mungkin baru akan memanas kembali pada tahun 2020. Pukulan ini menjadi berat karena Prof Latif adalah ilmuwan pro Al Gore. (bbc.co.uk)
Sekarang, bahkan media berpengaruh seperti BBC telah mempertanyakan bukti pemanasan global.(news.bbc.co.uk). Jadi, apa maksud Prof Wadhams ketika ia mengatakan Es Arktik akan mencair total dalam 20 tahun ? Apakah ia bermaksud menegasikan pernyataan Prof Latif dan Gerd Leipold ?
pada tahun 2005, sebuh studi oleh Journal Science menemukan sebaliknya. Peningkatan suhu bumilah yang telah memicu peningkatan kadar karbondioksida. sesungguhnya ada trend penurunan suhu global sejak 1998. (Ya..anda tidak salah baca). Data terbaru Juni 2009 menunjukkan Suhu bumi mengalami penurunan sebanyak 74 derajat Fahrenheit sejak Gore merilis "An Inconvenient Truth" pada tahun 2006.
Manusia dianggap sebagai kambing hitam penyebab pemanasan global, EPA (Environmental Protection Agency) memperkirakan bahwa 25% emisi gas metana yang dilepas ke Atmosfer berasal dari kotoran ternak.
Propaganda kampanye pencegahan global warming
Kredit karbon
Carbon trading adalah mekanisme berbasis pasar untuk membantu membatasi peningkatan CO2 di atmosfer. Ketika kita naik pesawat yang menghabiskan banyak bahan bakar, kita harus membeli kredit karbon dari broker-broker (seperti saham). Sebagai imbalannya, mereka yang menjual kredit karbon itu akan menerima reward yang bisa digunakan untuk proyek-proyek lingkungan hidup. Nah, pembeli kredit karbon itu, dalam hal ini kita, akan disebut "Carbon Neutral" karena walaupun kita melepas banyak karbon ke udara, kita menciptakan keseimbangan antara melepas dan mengurangi karbon. Intinya adalah pembayaran hutang iklim seperti yang telah dijelaskan oleh Lord Monckton.
Pajak pendapatan
Akan ada pajak karbon dalam skala Global untuk memerangi pemanasan global. Bagi pemerintah dunia, pemasukan tambahan. Bukankah menyenangkan apabila pemerintahan mendapat pemasukan tambahan ? Ya, namun bagi kita akan ada pajak tambahan bagi bahan bakar yang anda beli.
Mungkin masih banyak bentuk propaganda yang lainnya.
Terakhir, menjaga bumi adalh kewajiban kita sebagai umat manusia, jadi tidak ada salahnya untuk melestarikan hutan, menghemat bahan bakar dan listrik,. intinya kita harus bijak menyikapi alam dan bumi ini, demi kebaikan kita dan anak cucu kita kelak.
nb. dari berbagai sumber
Selengkapnya...
14/08/11
Konspirasi Pemanasan Global
13/08/11
TL 09 vacation
Assalamualiakum.....
Yeeeeaaahhhh.....
This's great moment for me, karna ni pertama kalinya aku posting di blog ini gak pake Copas.... HAhhahaa
coz this's first time, kyanya perlu banged dirayain,. wkkwkwkwk :-D
Kali ini aku mau posting pengalaman liburanku bareng ank2 TL 09 yg gOkilllll....
Aku seh sebnarnya lupa tanggal kejadiannya ni, yang ku ingat cuma aku dari rumah pukul 6 pagi dan nyampe rumah kembali pukul 7 malamm ( wuiihhhhhh, 13 hours.. :-D )..
Oh Ya lupa, selamat berpuasa ya buat teman2 yang lagi menjalankannya, mudahan puasanya lancarr... aminn :-D
..
kita kembali ke niat awal kita sebelumnya ( nawaituuu.. :-D )
Hampir beberapa bulan kita disibukan dengan kegiatan belajar, membuat kita suntuk jga, perlu sesuatu ni yg bsa merefresh otak kita biar segar kembali,. jadi akhirnya diputuskan utk pergi liburan ke Balikpapan dan perginya setelah UAS ..(UASnya bikinnnnn pusing.. :-( ..
waktu itu yg ngurus segala hal utk liburan itu seh teman2, klo aq se cma bayar aj trs berangkatt dehh.... (maaff ya teman, hihiiii )
...
Sampai pada hari yg telah ditentukan,.....
sekitar jam 5 kurang, bangun trus mandi, sempatin sholat,... wajib itu :-D
Trus jm 6 ud Goooo...... hehehehe..
...
Perjalanan liburan kami sih gak mulus2 amat, ada kejadian yg mengerikan terjadii selama perjalanan Smd - Bpp...
BUS KAMI NABRAK POHONNNNN.............!!!!!!!!!
bilang si sopir seh rem blong, usut punya usut ternyata busnya uda tuha, jadi wajar klo remnya blong dan SUDAH GAK PANTAS DISEWAKAN... grrrrrrrrrrrr
terpaksa deh kami semua pindah kendaraan lain dan kembali melanjutkan perjalanan kami......
...
Tapi ya udalah, disamping kejadian itu, kami juga mengalami banyak hal yang menyenangkan, intinya LIBURANnya sukses...hahahaha
dari pada banyak bacot, ini aku tampilkan beberapa foto2 kami waktu liburan...
cEkiDOOTTTT.........................................................................
In Trip
Makan dolooo... hehee
In Beach, time for fun.. hehehee
pict Before go home,, ehehee
heheee.. asyikkan liburan kami,...
ngmong2 kpan ne bisa liburan lagi bareng ank2 TL 09 ya.. huuuu :-/
oh yaaa..
msi ada bonus 1 ne...
NO comment akhhh... hihihikayaknya cukup ampe sini dulu, mohon maaf klo ada yg kurang berkenan.. :-)
Wassalam....
Didedikasikan buat teman2 TL 09 unmul.. Selengkapnya...
12/08/11
Don't Say Lets Go Green Without Do Action
Pada peringatan Hari Bumi 2010 (peringatan puncak pada setiap 22 April) puluhan pengurus BEM Unmul dan HIMATELI Unmul (Universitas Mulawarman) Samarinda menggelar "karya nyata" dengan memungut sampah dari jalan dan parit di Samarinda.
Dilaporkan di Samarinda, Minggu puluhan mahasiswa perduli lingkungan itu mulai melakukan aksi long march sambil memungut sampah dari lingkungan "Kampus Hijau" (Gunung Kelua) lalui menyisir jalan sampai ke simpang Mal Lembusuana.
Mahasiswa juga sempat melakukan orasi serta membagi-bagikan bunga dan selebaran untuk mengajak seluruh warga lebih perduli terhadap lingkungan.
"Bumi ini satu, bumi kita semua sehingga kita harus menjaganya. Dampak lingkungan bukan hanya masalah satu daerah saja namun merupakan persoalan global yang melintasi administratif sebuah daerah dan negara," kata Suharno Prihandoko selaku Wakil Presiden BEM Unmul.
"Don't Say Lets Go Green Without Do Action. Program Kaltim hijau bukan sekedar simbol saja namun harus dilakukan dengan tindakan nyata," imbuh dia dalam aksi hasil kerja sama BEM Unmul dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (Himateli) Unmul.
Ia menambahkan bahwa aksi tersebut sebagai bentuk keinginan mereka agar Pemkot Samarinda atau Pemprov kaltim untuk lebih tegas kepada pelaku Illegal mining dan illegal logging sebagai salah satu penyebab kerusakan lingkungan.
"kami berharap seluruh masyarakat dapat pula berperan serta dalam penjagaan lingkungan agar tetap bersih dan indah," katanya menambahkan.
Peringatan hari bumi ini ditutup dengan melakukan aksi cap tangan menggunakan cat hijau di atas selembar kain selebar tiga meter sebagai bentuk dukungan program lingkungan di Kalimantan Timur
Sumber : kaltim.antaranews.com Selengkapnya...
Himateli - Hari Tanpa Tembakau
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HIMATELI) Unmul Samarinda menggelar aksi turun jalan memperingati Hari Tanpa Tembakau se Dunia di Perempatan Mal Lembuswana, Selasa (31/5). Dalam aksinya para mahasiswa mengambil rokok yang dihisap pengendara mobil, kemudian memberi permen sebagai gantinya. Aksi mengambil rokok dari pengendara bermotor dilakukan sebagai aksi menyadarkan bahwa asap rokok merupakan salah satu penyebab dari efek rumah kaca yang berkontribusi menyumbangkan gas CO2 dan gas methane.
sumber :kaltim.tribunnews.com Selengkapnya...
Earth: Let’s Fall In Love With Our Lucky Planet… Again
“Of all the planets in our universe, there is only one we know can support life. Just the right distance from its sun, with a perfect climate, it’s been called the lucky planet. All life on Earth is built on chance and powered by the Sun, but the delicate balances of our world are faltering as the planet struggles to support our growing demands. This is the time to take stock of what we have, and what we stand to lose.”
– Excerpt from Patrick Stewart’s opening narration
Poster Film Dokumenter Earth, sebuah film yang membahas tentang global warming dengan sangat indah dan apik.
Earth adalah sebuah film dokumenter yang amat indah. Kita diajak melihat keindahan Bumi dan dinamika makhluk hidup yang saling berkait. Keindahan film ini sudah menjeratku semenjak detik pertama. Apalagi dengan suara Patrick Stewart sebagai narator. Bagi yang gak kenal Patrick Stewart, dia adalah yang menghidupkan karakter Captain Jean-Luc Picard dalam serial Star Trek: The Next Generation dan beberapa film layar lebar star trek. Atau kalo gak inget juga, dia adalah Professor Charles Xavier dalam trilogi film X-Men.
Mengutip dari iklannya: “Film ini mengisahkan tentang beruang kutub, gajah dan paus yang berjuang untuk hidup dan menyelamatkan diri dari efek global warming. Beruang kutub berusaha hidup di tengah pecahan es yang semakin mencair, gajah yang harus berjalan jauh mencari air, dan paus bermigrasi ribuan mil untuk mencari plankton makanannya.“. Selain ketiga binatang itu sebagai ‘tokoh utama’, kita juga bisa melihat binatang-binatang lain dan perjuangan mereka untuk bertahan hidup dalam ekologi mereka yang semakin tak nyaman akibat global warming.
Film ini penuh dengan gambar menarik. Misalnya kita bisa melihat bagaimana great white shark berburu anjing laut dengan stunt akrobatnya yang memukau. Ada juga adegan ikan layar yang melesat lincah memburu segerombolan besar ikan-ikan kecil. Beruang kutub yang kelaparan dan lemas tak bisa berkutik di depan segerombolan besar walrus. Gerombolan gajah yang melintasi padang gersang dalam perjalanan panjang menuju sumber air. Singa-singa yang tak punya pilihan selain terpaksa menyerang gajah yang berukuran cukup besar, menyerang secara bergerombol walau mangsa sebesar itu tak lazim bagi mereka. Sejenis burung bangau yang harus terbang tinggi melewati Mount Everest untuk menghindar dari musim dingin yang tak bersahabat. Dan masih banyak adegan menarik lainnya.
Film ini mengajak kita melihat siklus perubahan yang periodik dipermukaan Bumi dalam satu tahun dan bagaimana kehidupan hewan-hewan menyesuaikan diri dengan perubahan Bumi. Sementara itu, secara perlahan, keadaan Bumi juga berubah oleh efek global warming. Global warming ini membuat ekologi di berbagai tempat dipermukaan Bumi menjadi semakin tidak bersahabat. Ujungnya adalah terancam punahnya berbagai spesies. Misalnya jika keadaan seperti saat ini terus berlangsung, pada tahun 2030 beruang kutub akan punah.
Pada bagian akhir film, kita diajak untuk ikut serta mengurangi efek global warming ini. Kita diajak melestarikan keindahan Bumi dengan flora dan faunanya. Kita juga diajak mempertahankan daya dukung hidup planet kita yang pada bagian awal telah disebutkan sebagai lucky planet.
Apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi Global Warming ? Dalam tulisan “Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Untuk Menghadapi Global Warming“. Mungkin 15 cara yang disarankan oleh Al Gore dalam tulisan itu bisa kita terapkan untuk ikut menjaga kekayaan hayati planet tercinta kita. Let’s fall in love with Earth. Again
Sumber : http://langitselatan.com/2008/05/01/earth-lets-fall-in-love-with-our-lucky-planet-again/
Selengkapnya...
GLOBAL WARMING,. apa yaa ???
Saya yakin banyak dari kita tahu dan sering dengar kata global warming ( klo di Indonesia kn artinya se Pemanasan Global ).... Walaupn byk yang pernah dengar kata GLOBAL WARMING, tapi saya juga yakin banyak juga yang tidak tahu apasih Global Warming itu ? Pemanasan Global seperti apa sih ? apa semua bumi menjadi panas ? kalo bumi menjadi panas, kok masih ada salju di gunung Everest ??..
jadi Global warming itu apaan sihh ??????
okee... pada postingan kali ini kita akan sedikit membahas tentang Global Warming..
Sebelumnya kita mundur dulu ke beberapa tahun yang lampau.... hheehheee..
Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di Bumi selalu berubah. Dari studi tentang jaman es di masa lalu menunjukkan bahwa iklim bisa berubah dengan sendirinya, dan berubah secara radikal. Apa penyebabnya? Meteor jatuh? Variasi panas Matahari? Gunung meletus yang menyebabkan awan asap? Perubahan arah angin akibat perubahan struktur muka Bumi dan arus laut? Atau karena komposisi udara yang berubah? Atau sebab yang lain?
pertanyaan tersebut selalu menghantui para ilmuan pada waktu itu....huuuuuuuuuu.. seremm....:p
Sampai baru pada abad 19, maka studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut sebagai gas rumah kaca, yang bisa mempengaruhi iklim di Bumi.
Muncul Pertanyaan lagi buat kita sebagai orang awam, Apaan lagi itu Gas Rumah Kaca ? apa Rumah yang ada kacanya menghasilkan gas yang menyebabkan Global Warming ????
Sebetulnya yang dikenal sebagai ‘gas rumah kaca’, adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada KEHIDUPAN di muka Bumi ini.. whuuiiiiii....
Pada sekitar tahun 1820, kakek Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca). 30 tahun kemudian, Kakek Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Kakek Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.
Setelah penamuan yang dilakukan kakek kakek tersebut, para ilmuan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan Temperatur. Jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1°C.
Tetapi, atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti, sebut saja, perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar.
Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO2e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO2 – yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO2 per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C. ........... ribett akhh
Lalu, jika memang terjadi pemanasan, sebagaimana disebut; yang kemudian dikenal sebagai pemanasan global, (atau dalam istilah populer bahasa Inggris, kita sebut sebagai Global Warming): Apakah merupakan fenomena alam yang tidak terhindarkan? Atau ada suatu sebab yang signfikan, sehingga menjadi ‘populer’ seperti sekarang ini? Apakah karena Al Gore dengan filmnya “An Inconvenient Truth” yang mempopulerkan global warming? Tentunya tidak sesederhana itu... ( ternyata filmnya juga mengalami pro kontra.. )
Perlu kerja-sama internasional untuk bisa mengatakan bahwa memang manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi Matahari dan keseluruhan permukaan Bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim. Dalam besaran yang dinyatakan sebagai Radiative Forcing sebagai alat ukur apakah iklim global menjadi panas atau dingin (warna merah menyatakan nilai positif atau menyebabkan menjadi lebih hangat, dan biru kebalikannya), maka ditemukan bahwa akibat kegiatan manusia-lah (antropogenik) yang menjadi pendorong utama terjadinya pemanasan global
Dari gambar terlihat bahwa karbon-dioksida adalah penyumbang utama gas kaca. Dari masa pra-industri yang sebesar 280 ppm menjadi 379 ppm pada tahun 2005. Angka ini melebihi angka alamiah dari studi perubahan iklim dari masa lalu (paleoklimatologi), dimana selama 650 ribu tahun hanya terjadi peningkatan dari 180-300 ppm. Terutama dalam dasawarsa terakhir (1995-2005), tercatat peningkatan konsentrasi karbon-dioksida terbesar pertahun (1,9 ppm per tahun), jauh lebih besar dari pengukuran atmosfer pada tahun 1960, (1.4 ppm per tahun), kendati masih terdapat variasi tahun per tahun.
Sumber terutama peningkatan konsentrasi karbon-dioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Peningkatan konsentrasi metana (CH4), dari 715 ppb (part per billion= satu per milyar) di jaman pra-industri menjadi 1732 ppb di awal 1990-an, dan 1774 pada tahun 2005. Ini melebihi angka yang berubah secara alamiah selama 650 ribu tahun (320 – 790 ppb). Sumber utama peningkatan metana pertanian dan penggunaan bahan bakar fosil. Konsentrasi nitro-oksida (N2O) dari 270 ppb – 319 ppb pada 2005. Seperti juga penyumbang emisi yang lain, sumber utamanya adalah manusia dari agrikultural. Kombinasi ketiga komponen utama tersebut menjadi penyumbang terbesar pada pemanasan global.
Kontribusi antropogenik pada aerosol (sulfat, karbon organik, karbon hitam, nitrat and debu) memberikan efek mendinginkan, tetapi efeknya masih tidak dominan dibanding terjadinya pemanasan, disamping ketidakpastian perhitungan yang masih sangat besar. Demikian juga dengan perubahan ozon troposper akibat proses kimia pembentukan ozon (nitrogen oksida, karbon monoksida dan hidrokarbon) berkontribusi pada pemanasan global. Kemampuan pemantulan cahaya Matahari (albedo), akibat perubahan permukaan Bumi dan deposisi aerosol karbon hitam dari salju, mengakibatkan perubahan yang bervariasi, dari pendinginan sampai pemanasan. Perubahan dari pancaran sinar Matahari (solar irradiance) tidaklah memberi kontribusi yang besar pada pemanasan global.
Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa memang manusia yang berperanan bagi nasibnya sendiri, karena pemanasan global terjadi akibat perbuatan manusia sendiri.
Keep The Earth, Go Greenn....
Selengkapnya...
Lubang Ozon mengecil
Untuk pertama kalinya, ilmuwan menemukan bukti yang meyakinkan bahwa lubang raksasa akibat polusi kimia di lapisan ozon terus menyusut. Artinya, kebijakan Protokol Montreal yang diterapkan sejak 22 tahun lalu menuai hasil.
Pada protokol yang ditandatangani tahun 1989 disepakati penggunaan chlorofluorocarbons (CFC), bahan beracun yang biasa digunakan pada penyejuk udara dan lemari es tidak boleh lagi digunakan.
Dari penelitian, pelarangan itu telah membantu planet Bumi memulihkan sebagian lapisan ozon pelindungnya.
Sebagai informasi, lubang ozon bukanlah benar-benar lubang, melainkan sebuah kawasan di atas kutub di mana lapisan ozon yang umumnya memiliki kandungan molekul O3 setebal sekitar 24 kilometer tergerus menjadi sangat tipis. Padahal, lapisan ini merupakan pelindung planet Bumi dari radiasi sinar Matahari.
Bukti-bukti bahwa lapisan ozon, khususnya di kawasan kutub selatan kembali menebal merupakan kabar gembira bagi kehidupan di dunia. Pasalnya, lapisan ozon mampu menyerap hingga 99 persen sinar ultraviolet frekuensi tinggi hingga Bumi bisa dihuni makhluk hidup.
Sebelum ini, ilmuwan pakar atmosfir menemukan bahwa jumlah CFC yang menyebabkan penipisan ozon di startosfir (salah satu lapisan di ketinggian antara 8 sampai 50 kilometer) di atas kutub utara, terus menurun.
Peneliti memperkirakan penurunan jumlah CFC berpotensi meningkatkan ketebalan lapisan ozon di kawasan itu. Namun selama ini peneliti belum bisa memastikannya. Salah satu alasannya, ketebalan lapisan ozon berfluktuasi secara dramatis dari musim ke musim. Sehingga besarnya lubang ozon sulit dilakukan.
Kini, sekelompok peneliti lingkungan yang diketuai Murry Salby, dari Macquarie University, Sydney, Australia, berhasil menemukan penyebab terjadinya fluktuasi ketebalan ozon. Dengan menghilangkan fluktuasi itu dari data yang dikumpulkan, peneliti bisa menghasilkan data perubahan sistematik pada lapisan ozon kutub selatan.
Pada laporan yang dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters, peneliti mengalkulasi, kini lubang ozon di atas kutub selatan telah menyusut hingga 15 persen dibandingkan pada saat lubang ozon mencapai titik maksimalnya di tahun 1990-an.
“Temuan ini merupakan bukti yang dihasilkan dari penelitian yang meyakinkan seputar pulihnya lapisan ozon,” kata Adrian McDonald, ilmuwan pakar atmosfir dari University of Canterbury, Christchurch, Selandia Baru, seperti dikutip dari LifeLittleMysteries, 20 Mei 2011.
McDonald menyebutkan, temuan ini merupakan contoh di mana jika signifikansi data-data statistik cukup tinggi, Anda bisa melihat pola dengan lebih jelas dan bisa meyakini data tersebut.
sumber : VIVAnews Selengkapnya...
Langganan:
Postingan (Atom)





